21 January 2026 , 11:54 WIB / berita

Dalam pengelolaan kebun kelapa sawit modern, produktivitas tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Seiring meningkatnya tuntutan keberlanjutan, aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik agronomi di lapangan. Prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) mendorong perusahaan perkebunan untuk mengelola kebun secara lebih bertanggung jawab, berbasis ekologi, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks ini, pemanfaatan tanaman berbunga sebagai beneficial plants menjadi salah satu praktik yang relevan, aplikatif, dan terbukti efektif.

Tanaman berbunga seperti Turnera subulata, Antigonon leptosis, Cassia cobanensis, dan Euphorbia heterophylla memiliki peran penting dalam membangun keseimbangan ekosistem kebun kelapa sawit. Penanaman tanaman cantik ini di kebun kelapa sawit secara konsisten membantu menjaga populasi hama dan menurunkan ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Konsep beneficial plants berangkat dari pemahaman bahwa kebun kelapa sawit merupakan ekosistem yang hidup, bukan sekadar area produksi. Di dalamnya, siklus makhluk hidup berjalan seperti pada hakikatnya, pun dengan rantai makanan. Tanaman pendukung yang dirawat dengan pendekatan yang tepat mampu menyediakan sumber pakan, habitat, dan tempat berlindung bagi segala jenis serangga predator hama kelapa sawit. Semakin banyak beneficial plants yang ditanam, kemungkinan serangga predator alami hama sawit semakin banyak pula.

Disebut juga ‘bunga pukul delapan’, karena sesuai dengan panggilannya, Turnera subulata mekar sempurna pada pukul delapan pagi.

Turnera subulata merupakan tanaman bunga yang paling luas diaplikasikan di kebun kelapa sawit. Karakternya yang adaptif, mudah tumbuh, dan memiliki periode berbunga yang panjang menjadikannya sumber nektar yang stabil bagi berbagai jenis serangga menguntungkan.

Salah satu serangga predator alami hama sawit yang menetap dan mendapatkan sumber makanan dari Turnera subulata adalah Sycanus sp. Sycanus memangsa ulat api yang memakan daun kelapa sawit, menyebabkan proses fotosintesis berjalan tidak sempurna sehingga kualitas produksi buah pada pokok yang terserang akan menurun. Pembudidayaan dan perawatan Turnera subulata tergolong mudah yakni dengan cara stek batang, dengan masa produktif di rentang dua sampai lima tahun.

Antigonon leptosis, tanaman rambat berbunga dengan produksi nektar tinggi, memberikan kontribusi pada skala yang lebih luas. Bunga Antigonon efektif menarik predator berukuran sedang hingga besar, seperti tawon parasitosid (Braconidae dan Ichneumonidae), laba-laba, serangga predator seperti capung dan kepik predator. Serangga-serangga ini berperan dalam memangsa larva dan imago hama pemakan daun serta serangga penghisap yang kerap ditemukan di kebun kelapa sawit.

Penanaman Antigonon lebih banyak ditanam di area non produktif, seperti tepi jalan kebun sawit dan jalan antar blok. Warna merah muda keunguan yang kontras membuat tanaman ini sangat menonjol secara estetika.

Hampir sama seperti Antigonon leptosis, Cassia cobanensis juga menarik predator berukuran sedang hingga besar. Tawon parasitosid, laba-laba, dan kumbang predator senang hinggap pada tanaman ini karena ukuran bunga yang besar dan terbuka, memudahkan akses ke arah nektar. Serangga-serangga ini berperan aktif memangsa hama ulat daun, termasuk ulat api dan ulat kantong yang merupakan hama utama tanaman kelapa sawit. Selain ditanam di pinggi jalan, Cassia cobanensi juga banyak ditanam di area konservasi dan zona biodiversitas, meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap fluktuasi serangan hama.

Sedangkan Euphorbia heterophylla, sering kali dipersepsikan sebagai gulma yang harus dibersihkan. Namun pendekatan agronomi modern melihat tanaman ini secara lebih proporsional. Bunga Euphorbia menyediakan nektar bagi parasitosid berukuran kecil seperti Trichogramma spp, kumbang kecil, dan semut. Musuh alami ini berperan dalam mengendalikan telur dan nimfa hama kelapa sawit, terutama hama berskala kecil dan fase awal perkembangan serangga. Bersama dengan tanaman berbunga lain yang telah disebutkan, rangkaian pengendalian hama secara alami makin lengkap, dari mulai fase awal perkembangan hama hingga fase dewasa, seluruhnya dapat diakomodir dengan adanya populasi tanaman berbunga sahabat serangga predator.

Terakhir, tanaman bunga Senna multijuga juga memiliki kemampuan sebagai pembasmi hama secara alami. Berbeda dengan tanaman bunga yang telah dijelaskan, yang mengundang serangga predator untuk makan atau singgah, Senna multijuga melakukan pengendalian hama secara mandiri. Tanaman ini menggunakan zat semacam feromon yang menarik hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) untuk hinggap dan kemudian memakan kulit cabang atau dahan yang diduga mengandung zat bersifat toksin, yang pada akhirnya menyebabkan sebagian besar kumbang tanduk mati. Sebuah mekanisme unik yang dimiliki tanaman berbunga.

Perseroan memanfaatkan tanaman berbunga ini sebagai langkah manajemen kebun yang terintegrasi serta ramah lingkungan. Perlahan mengurangi insektisida dan bahan kimia lain yang tidak sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Menekankan kepada seluruh karyawan bahwa tanaman-tanaman ini bukan sekadar fitur estetika untuk kebun melainkan strategi pengelolaan jangka panjang perusahaan dalam menjaga kelangsungan tanaman kelapa sawit di kebun-kebun operasional.